• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

Semester I 2025, Arus Peti Kemas Ekspor dan Impor Pelindo Tumbuh 13,64 persen

Semester I 2025, Arus Peti Kemas Ekspor dan Impor Pelindo Tumbuh 13,64 persen

​​Jumlah arus peti kemas ekspor dan im​por (internasional) yang melalui terminal di bawah pengelolaan PT Pelindo Terminal Petikemas pada semester I 2025 meningkat 13,64%. Perseroan mencatat arus sebesar 2,1 juta TEUs peti kemas internasional, naik dari 1,8 juta TEUs pada periode yang sama tahun lalu. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyebutkan bahwa baik peti kemas ekspor maupun impor mengalami pertumbuhan. Sepanjang semester I, peti kemas impor tercatat sebanyak 998 ribu TEUs, sementara peti kemas ekspor mencapai 1,01 juta TEUs.

“Arus peti kemas dalam negeri juga tumbuh, meskipun tidak sebesar pertumbuhan arus peti kemas internasional. Hingga semester I 2025, peti kemas domestik tercatat mencapai 4,2 juta TEUs atau tumbuh sekitar 4,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4 juta TEUs,” jelasnya Selasa (15/7/2025) seperti dikutip dari swa. Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan arus peti kemas internasional ini melampaui prediksi perusahaan, mengingat kondisi global yang penuh ketidakpastian. Selain peti kemas bermuatan, reposisi peti kemas kosong (empty) ke sejumlah negara turut mendorong peningkatan arus. Beberapa terminal yang menangani peti kemas internasional juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.

TPK Semarang, misalnya, tumbuh 17,7% dari 353 ribu TEUs pada semester I 2024 menjadi 415 ribu TEUs pada semester I 2025. IPC TPK bahkan mencatatkan lonjakan 43,26% dari 307 ribu TEUs menjadi 440 ribu TEUs. “Secara keseluruhan, arus peti kemas (internasional dan domestik) di lingkungan PT Pelindo Terminal Petikemas mencapai 6,3 juta TEUs, tumbuh 7,61% dibandingkan semester I tahun lalu,” lanjut Widyaswendra.

Pertumbuhan ini sejalan dengan bangkitnya aktivitas sektor pelayaran internasional, terutama di jalur strategis seperti Indonesia–China. Meski pertumbuhan arus peti kemas tidak merata di seluruh rute perdagangan, secara umum tren peningkatannya konsisten. Ocean Express Network (ONE), perusahaan pelayaran asal Jepang yang melayani beberapa pelabuhan ekspor-impor di Indonesia, juga merasakan pertumbuhan tersebut. “Pada paruh pertama tahun ini (2025), pertumbuhan kami berkisar antara 3 hingga 5 persen,” ujar Presiden Direktur ONE Indonesia, Keishin Watanabe.

Ia memperkirakan, untuk rute tertentu, angka pertumbuhan lebih tinggi. Salah satunya adalah jalur pelayaran Indonesia–China yang mencatat lonjakan signifikan. “Saya menduga pertumbuhan tertinggi terjadi pada rute Indonesia–China. Ini tak lepas dari peningkatan arus perdagangan kedua negara, terutama pasca munculnya kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang mendorong banyak perusahaan mengalihkan rantai pasok mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” katanya.

Sejalan dengan pelabuhan dan pelayaran, sektor logistik juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan sepanjang paruh pertama 2025. Kinerja sejumlah perusahaan logistik dan forwarder domestik mencerminkan geliat perdagangan internasional dan meningkatnya kebutuhan distribusi dalam negeri.

Salah satu indikatornya terlihat dari performa Gateway Container Line (GCL), perusahaan nasional yang dikenal sebagai pemain terbesar layanan konsolidator Less than Container Load (LCL) di Indonesia. Direktur Utama Gateway Container Line, Hesty Rosmawati, mengatakan perusahaannya mencatat pertumbuhan stabil di berbagai lini layanan, baik ekspor maupun impor. “Pertumbuhan tertinggi masih berasal dari China, baik untuk layanan LCL maupun FCL (Full Container Load) impor,” ujarnya.

Layanan LCL impor, jelas Hesty, tumbuh 8,94%, dengan volume terbesar dari China. Sementara layanan FCL impor meningkat 5,65%, juga ditopang pasar China. Untuk LCL ekspor, pertumbuhan tercatat 9,2% dengan tujuan terbesar ke Jebel Ali, Uni Emirat Arab, meskipun pertumbuhan tertinggi terjadi pada rute ke Vietnam. FCL ekspor bahkan melonjak 23,4%, terutama ke kawasan ASEAN dan Jebel Ali.

Tidak hanya pada level perusahaan, secara makro sektor logistik juga menunjukkan kinerja menjanjikan. Data Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) serta Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat sektor transportasi dan pergudangan, yang menjadi tulang punggung logistik, menyumbang 6,08% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada semester pertama 2025.

Pertumbuhan sektor ini tercatat 9,01% (year-on-year), menjadikan nya salah satu sektor dengan laju pertumbuhan tercepat. SCI memperkirakan sepanjang 2025 sektor ini akan tumbuh 8,56% dengan nilai kontribusi sekitar Rp1.517 triliun atau setara 6,49% dari total PDB. swa

 

  • By admin
  • 11 Aug 2025
  • 463
  • INSA