• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

PT Andalas Bahtera Baruna Bangun Dua Unit Kapal Angkut Semen

PT Andalas Bahtera Baruna Bangun Dua Unit Kapal Angkut Semen

JAKARTA- PT Andalas Bahtera Baruna, perusahaan pelayaran anggota Indonesian National Shipowners Association membangun dua unit kapal PB Cement Carrier berkapasitas 4.500 Dead Weight Tonnage di PT Sumber Marine Shipyard, Batam, Kepulauan Riau,

Kedua kapal ini adalah sister ship. Spesifikasi kapal adalah Panjang 98 meter, lebar 18,20 M dan draf 4,80 M. Kapal di-design dengan mengandalkan sumber daya manusia Indonesia dan dengan mempertimbangkan secara detail rencana dan kebutuhan operasi nantinya sesuai regulasi internasional dan Pemerintah.

Pembangunan kedua kapal tersebut ditandai dengan pelaksanaan keel laying di galangan yang berlokasi di Batam, Senin (10/5/2021). Keel laying dihadiri Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Perhubungan Laut Capt. Hermanta beserta Senior Manager PT Andalas Bahtera Baruna Capt. Adrie S. Supit.

Kedua kapal tersebut diestimasi akan dibangun selama 12 bulan hingga 15 bulan dengan menggunakan kandungan lokal sebesar-besarnya serta dibangun oleh 100 persen sumber daya manusia Indonesia.

Dalam sambutannya Direktur Perkapalan dan Kepelautan Capt. Hermanta mengatakan Kementerian Perhubungan terus mendorong kolaborasi antara perusahaan galangan kapal nasional dengan perusahaan pelayaran nasional.

Terutama dalam rangka penyediaan kebutuhan kapal dalam negeri melalui pembangunan kapal pada galangan kapal domestik.

Dia menjelaskan kolaborasi tersebut sangat dibutuhkan terutama untuk meningkatkan kegiatan pembangunan kapal di dalam negeri dan memenuhi kebutuhan kapal-kapal berbendera Indonesia. “Sebab, sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia masih membutuhkan kapal dalam jumlah yang tidak sedikit,” ujarnya.

Menurut dia, selama ini kebutuhan-kebutuhan kapal tersebut sebagian telah dipenuhi oleh negara secara bertahap melalui pembangunan kapal baru, khususnya untuk angkutan perintis, tetapi tidak untuk angkutan komersial.

Kita di Indonesia masih butuh kapal-kapal seperti kapal kontainer, kapal general cargo, tug and barge, bulk carrier, kapal angkut semen, chemical, kapal oil and gas bahkan kapal-kapal offshore. Apalagi, sebagian kapal berbendera Merah Putih sudah waktunya untuk diremajakan sehingga kebutuhan akan kapal selalu meningkat,” katanya seperti ditulis tribunnews.

Oleh karena itu, Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan selalu mendorong terjadinya kolaborasi pelayaran dan galangan kapal nasional. Dengan cara kolaborasi tersebut, sektor maritim Indonesia dapat lebih cepat berkembang bahkan akan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Lebih jauh Capt. Hermanta menjelaskan ditengah suasana pandemi Covid-19, pembangunan kapal memiliki makna yang sangat berarti bagi Indonesia. Sebab proyek ini dapat menciptakan lapangan kerja seperti yang saat ini tengah dilakukan oleh PT Sumber Marine Shipyard.

“Proyeknya adalah membuat kapal angkut semen dan ini akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit tentunya dimana saudara-saudara kita saat ini banyak yang membutuhkannya,” jelasnya.

Menurut dia, Pemerintah ikut berbangga dan memberikan apresiasi karena pembangunan kapal ini akan menggunakan kandungan lokal yang sebesar-besarnya sehingga industri penunjangnya seperti pelat, kabel, lampu dan sebagainya, akan ikut menerima dampak positifnya.

Direktur Utama PT Andalas Bahtera Baruna Haneco W. Lauwensi mengatakan perseroannya selama ini  telah membangun kapal angkut semen sebanyak enam unit di galangan kapal nasional. “Kami mempercayakan kapal kami untuk dibangun di dalam negeri,” katanya kepada Shipowners Magazine.

Haneco yang juga Ketua Bidang Angkutan Curah Indonesian National Shipowers’ Association itu  menjelaskan rencana pembangunan kedua kapal ini sudah diinisiasi sejak tahun lalu dimana PT ABB memang membutuhkan tambahan kedua kapal angkut semen untuk memenuhi kebutuhan angkutan semen dalam negeri melalui pembangunan kapal baru.

Kapal ini kami design dengan mengandalkan sumber daya manusia Indonesia dan dengan mempertimbangkan secara detail rencana dan kebutuhan operasi nantinya. “Kami meyakini galangan  nasional mampu membangun kapal angkut semen dibawah 10.000 DWT,” katanya.

Direktur PT Sumber Marine Shipyard Ronnie Kristanto mengatakan PT Sumber Marine Shipyard telah sukses membangun dua unit kapal cement carrier yakni MV Iriana berkapasitas 9.500 DWT dan dengan teknologi Electric Propulsion pertama yang dibangun di Indonesia, serta MV Camilla berkapasitas 9.000 DWT. "Hari ini kami dipercaya kembali untuk melaksanakan pembangunan kapal angkut semen sebanyak dua unit sekaligus," ujarnya kepada Shipowners Magazine. (Aj/tribunnews)

  • By admin
  • 07 Jun 2021
  • 17
  • INSA