Perang Timteng Akan Memberi Dampak Terhadap Pelayaran Nasional
Perang Timteng Akan Memberi Dampak Terhadap Pelayaran Nasional
Meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Iran memicu eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Situasi tersebut turut berdampak pada jalur pelayaran strategis dunia, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia.
Sekretaris Umum Indonesian National Shipowners’ Association Wadiman mengatakan eskalasi konflik tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi industri pelayaran nasional. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi global, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan akan berdampak pada rantai pasok energi dan logistik global.
Menurut Wadiman, jika jalur pelayaran tersebut benar-benar ditutup atau aktivitas pelayaran terganggu, maka dampaknya akan terasa pada kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada meningkatnya biaya bahan bakar kapal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan pelayaran serta mendorong kenaikan tarif angkutan laut secara global, termasuk di Indonesia.
Ia menambahkan, gangguan di Selat Hormuz juga dapat memicu perubahan rute pelayaran internasional dan meningkatkan risiko keamanan bagi kapal yang melintas di kawasan Timur Tengah.
Oleh karena itu, pelaku usaha pelayaran nasional perlu mencermati perkembangan geopolitik tersebut karena dapat mempengaruhi stabilitas perdagangan dan distribusi logistik dunia.
Sementara itu, Investor Relations PT Wintermar Offshore Marine, Tbk Pek Swan Layanto mengatakan, hingga saat ini permintaan armada masih stabil. Menurut manajemen, jika konflik berlanjut dan memicu lonjakan harga minyak, investasi dan aktivitas eksplorasi migas di luar zona konflik berpotensi meningkat. Kondisi ini bisa berdampak positif bagi permintaan kapal OVS. "Kenaikan harga minyak dapat mendorong investasi eksplorasi di wilayah lain untuk menjaga ketahanan energi global,” kata Pek Swan seperti ditukip dari Kontan.
Dari sisi biaya, perusahaan ini telah menyiapkan langkah mitigasi. WINS mengklaim memiliki perlindungan asuransi yang memadai bagi armada yang beroperasi di wilayah terdampak geopolitik. "Kami sudah memiliki perlindungan asuransi yang komprehensif,” ujarnya.
WINS juga melakukan penyesuaian strategi operasional dengan mengevaluasi penempatan armada. Perusahaan memprioritaskan wilayah dengan profil risiko geopolitik lebih stabil, namun tetap memiliki prospek pertumbuhan.
"Alokasi armada kami evaluasi secara aktif untuk meminimalkan risiko operasional,” tambahnya.
Dalam pandangan jangka menengah, konflik Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan tersebut, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi.
Dampaknya, kebutuhan kapal pendukung industri migas dapat meningkat. "Ini justru berpotensi mendorong kenaikan tarif sewa kapal (charter rate), karena OVS merupakan bagian penting dari operasional industri minyak,” kata Pek Swan.
Sektor Logistik
Sejumlah pelaku usaha memprediksi eskalasi konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya distribusi nasional dan menekan harga barang di dalam negeri.
Jalur ini dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia serta 20%-25% perdagangan LNG global, sehingga setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (brent) ke harga solar domestik.
"Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional," kata Setijadi dalam keterangan resminya yang diterima redaksi.
Dalam skenario moderat, kata dia, kenaikan harga minyak global sebesar US$ 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga US$ 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan.
"Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35%-40% dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10% dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5%-4%. Apabila harga solar meningkat 20%, ongkos truk berpotensi naik 7%-8%. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30% dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5%-12%," beber dia. Dikatakannya, rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14% dari harga produk, di mana sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Kenaikan ongkos truk 7%-8% berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5%.
"Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10% dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8%, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji," kata Setijadi. AJ
- By admin
- 09 Mar 2026
- 36
- INSA
