• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

INSA Ingatkan Anggota Soal Bahaya BBM Terkontaminasi

INSA Ingatkan Anggota Soal Bahaya BBM Terkontaminasi

JAKARTA—Baru -baru ini dilaporkan  bahwa perusahaan survey dan bunker  testing yang berbasis di Singapura telah  memperingatkan klien mereka bahwa  setidaknya enam sampel bunker yang  disuplai di Singapura menunjukkan adanya  bahan kimia berbahaya yang menyebabkan  masalah teknis termasuk diantaranya  sludging yang parah, penyumbatan filter  dan peralatan lainnya.

Laporan ini sejalan dengan peringatan yang  dikeluarkan sebelumnya oleh US Coast  Guard tentang kontaminasi bunker di Teluk  AS. Dilaporkan juga bahwa setidaknya dua  parcel kargo bahan bakar minyak  terkontaminasi dari AS telah diangkut  dengan 2 buah VLCC sebanyak masing-  masing 270.000 ton ke Singapura selama  beberapa bulan terakhir.

Tidak jelas apakah bunker yang  terkontaminasi di Singapura terkait dengan  kasus di AS. Namun, waktunya sangat  kebetulan dan beberapa sumber yang tidak  disebutkan namanya menyatakan, bunker  yang terkontaminasi di Teluk AS dan  Singapura berasal dari sumber yang sama.

Masalahnya adalah bunker yang  terkontaminasi telah memenuhi Spesifikasi  Bahan Bakar Laut ISO 8217 dan hanya  dengan pengujian forensik dengan  instrumentasi dan teknik yang lebih canggih  seperti GCMS ( Gas Chromatography-  Mass Spectrometry) atau FTIR (Fourier  Transform Spectroscopy), keberadaan  bahan kimia berbahaya tersebut dapat  dideteksi.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran  lebih lanjut, menyoroti potensi  ketidakcukupan rezim pengujian  konvensional dan kebutuhan untuk  fokus industri pada kontrol kualitas  dalam rantai pasokan.

Terlebih Singapura merupakan  pelabuhan bunkering utama di  ASEAN yang juga merupakan pusat  bunker terbesar di dunia, sehingga  besar kekhawatiran bahwa situasi ini dapat menyebar ke seluruh kawasan dan  mempengaruhi banyak kapal yang berlayar  di kawasan ini.

Dalam menyikapinya, DPP INSA telah  menyurati FASA (Federation of ASEAN  Shipowners' Associations) selaku wadah  asosiasi shipowner di kawasan ASEAN  untuk dapat menyampaikan masalah ini  kepada Otoritas di Singapura, termasuk  mendiskusikannya dengan otoritas terkait  untuk dapat menangani masalah tersebut  dengan serius.

INSA juga mendesak enforcement atas  control kualitas dalam rantai pasokan  diantaranya meliputi pengujian tambahan  untuk mendeteksi adanya senyawa kimia  yang berbahaya yang tidak seharusnya ada  dalam bunker yang diperdagangkan  mengingat konsekuensi dan bahaya serius  yang timbul dari pembakaran bunker off-  spec tersebut.

Disarankan bagi anggota INSA yang akan  melakukan pembelian bunker di Singapura  agar berhati-hati dan perlu melakukan  pencegahan risiko seperti kesepakatan  kontrak yang dapat mengkover isu  kontaminasi senyawa chemical berbahaya  dan jika diperlukan melakukan test  GCMS/FTIR untuk mendeteksi ada tidaknya  kandungan senyawa kimia berbahya  disamping konvensional test spesifikasi  bunker ISO 8217. (*)

 

 

  • By admin
  • 07 Sep 2018
  • 74
  • INSA