• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

INSA Bersyukur Indonesia Keluar dari Daftar War Risk

INSA Bersyukur Indonesia Keluar dari Daftar War Risk

JAKARTA (beritatrans.com) – Indonesian National Shipowners Asssociation (INSA) mengaku bersyukur pelabuhan Indonesia sudah terbebas dari daftar war risk atau rawan perang. Joint War Committee (JWC) yang berbasis di London mengeluarkan daftar war risk terbaru pada 14 Juni 2018 dimana Indonesia sudah tidak ada di dalam daftar tersebut.

“Indonesia biasanya masuk ke dalam kelompok Asia. Berdasarkan rilis terbaru JWC tersebut kawasan Asia hanya Pakistan yang masih terdaftar sebagai war risk,” kata Ketua Umum DPP INSA Jhonson W Sutjipto melalui keterangan tertulis yang diterima beritatrans.com dan aksi.id di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Jhonson menuturkan, sejak 2016, INSA telah membawa persoalan masuknya perairan Indonesia, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok Jakartra ke dalam daftar war risk kepada pemerintah. Pada Maret 2016, INSA juga melayangkan surat ke JWC meminta penjelasan mengenai masih dimasukkannya Pelabuhan Tanjung Priok ke dalam daftar zona rawan perang.

Atas Surat tersebut, pada 21 April 2016, JWC memberikan penjelasan kepada INSA. JWC menyebut dua alasan yang menyebabkan Pelabuhan Tanjung Priok masuk dalam daftar war risk, yakni masih banyaknya klaim asuransi atas kejahatan yang terjadi karena adanya pencurian biasa (petty theft) dan pencurian dengan kekerasan (petty theft robbery with violence).

Pada bulan yang sama, INSA menyurati Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), meminta agar pemerintah melakukan berbagai upaya agar Indonesia bisa keluar dari daftar war risk.

“Akhirnya pada 14 Juni 2018, JWC mengeluarkan Pelabuhan Tanjung Priok dari daftar war risk, dalam rilis terbarunya,” kata Jhonson.

Mengutip rilis JWC per 14 Juni 2018, Jhonson menyebutkan bahwa perairan dunia yang masuk dalam daftar war risk dikelompokkan ke dalam lima kawasan. Pertama, kawasan Afrika yang meliputi Libya, Somalia, Nigeria, dan Togo.

Kedua, kawasaan Samudera Hindia yang meliputi Laut India, Laut Arab, Teluk Eden, Teluk Oman, dan Laut Merah.

Ketiga, kawasan Asia yang hanya memunculkan Pakistan. “Dalam rilis sebelumnya, perairan Indonesia masuk dalam daftar war risk di kelompok kawasan Asia ini,” kata Jhonson.

Sedangkan kelompok keempat adalah kawasan Asia Tengah yang meliputi Iran, Irak, Lebanon, Saudi Arabia, Syria, dan Yaman. “Kelompok kelima adalah kawasan Amerika Selatan yakni perairan Venezuela,” tutur Jhonson.

Jhonson mengapresiasi semua pihak, baik dari pemerintah seperti Kemenkopolhukam, Kemenko Maritim, Kemenhub khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Polisi Perairan, Bakamla, dan TNI Angkatan Laut. “Juga pihak-pihak lainnya, termasuk asosisi dunia usaha dan akademisi,” ujarnya.

Menurut Jhonson, selama ini status war risk yang disandang oleh perairan Indonesia sangat merugikan, khususnya dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran. “Juga menimbulkan kesan bahwa kekuatan pertahanan nasional tidak mampu mengamankan perairan domestik. Padahal tidak ada peristiwa perang atau pembajakan di perairan Indonesia yang masuk ke dalam daftar war risk JWC tersebut,” kata Jhonson.

Jhonson menjelaskan, implikasi negative dari masuknya perairan Indonesia ke dalam daftar war risk JWC adalah adanya biaya tambahan premi yang dibebankan pihak asuransi kepada pemilik kapal yang akan mengunjungi pelabuhan di Indonesia.

“Apalagi di kawasan Asia Pacific, hanya Pelabuhan Tanjung Priok yang masih tercatat ke dalam zona rawan perang. Padahal Pelabuhan Tanjung Priok memiliki posisi sangat penting dalam sistem transportasi dan logistik nasional maupun internasional,” katanya.

Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dikeluarkan dari daftar war risk, maka beban premi asuransi menjadi hilang dan seluruh perairan di Indonesia dinyatakan aman bagi kegiatan pelayaran dan pengapalan. “Kami bersyukur atas pencapaian ini,” tutup Jhonson. (aliy)

Sumber : http://beritatrans.com/2018/06/25/insa-bersyukur-indonesia-keluar-dari-daftar-war-risk/

  • By admin
  • 26 Jun 2018
  • 58
  • INSA