• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

Ancaman Maritim Indonesia Masih Akan Terus Berkembang

Ancaman Maritim Indonesia Masih Akan Terus Berkembang

JAKARTA—Kepala Staf Komando  Armada 1 (Kaskoarmada 1) Laksma  TNI Bambang Irwanto M.Tr (Han)  mengatakan ancaman keamanan  maritim Indonesia saat ini tidak lagi  hanya menyangkut masalah  polemik yang bersifat tradisional  seperti masalah perbatasan  wilayah, tetapi sudah berkaitan  dengan tindakan kejahatan dan  kriminal seperti pembajakan bahkan  terorisme.

Hal itu disampaikannya pada  Workshop Membangun  Kesadaran Keamanan Maritim  yang dilaksanakan Pusat Komando  dan Pengendalian (PUSKODAL)  KOARMADA I, Jakarta, beberapa  waktu lalu.

Dia menjelaskan ancaman  keamanan maritim kian  berkembang dari waktu ke waktu.  Ancaman maritim Indonesia itu  dikelompokkan menjadi tiga.

Pertama, ancaman tradisional yakni  klaim tumpang tindih, wilayah abu-  abu dan wilayah perselisihan.

Kedua, ancaman non-tradisional  yakni pembajakan dan perompakan  bersenjata di laut, terorisme,  penyanderaan, penangkapan ikan  secara ilegal (illegal fishing),  penyelundupan nakoba, penyelundupan senjata api,  penyelundupan/perdagangan  manusia dan kerusakaan lingkungan  (bom ikan, racun ikan).

Ketiga, ancaman Hybrid/Mix yang  mencakup klaim tumpang tindih  kawasan penangkapan ikan,  pembebasan sandera dan ancaman  dunia maya.

Dia menjelaskan sektor maritim  Indonesia memiliki alur strategis bagi  kepentingan perekonomian nasional,  bahkan dunia. Aktivitas perekono-  mian masyarakat maritim sangat  bergantung kepada situasi keamanan  laut yang kondusif.

Sejumlah jalur perdagangan  internasional yang mempengaruhi  hajat hidup manusia di muka bumi ini  ada di Indonesia, salah satunya  adalah Alur Pelayaran Karimata dan  Selat Melaka yang merupakan  Kawasan Armada Barat TNI AL.

Pada jalur ini, jika ada hambatan  pelayaran dan perdagangan, maka  kehidupan masyarakat dunia akan  ikut terhambat. Oleh karena itu,  pengamanan terhadap jalur  pelayaran internasional ini sangat  penting guna memastikan kegiatan  perdagangan dan pelayaran aman  dan lancar.

Berdasarkan data ICC  International Maritime Berau,  Indonesia termasuk salah satu  negara penyumbang terbesar dari  total jumlah kejadian/ancaman  yang terjadi di dunia maritim. Pada  tahun 2018, Indonesia  menyumbang 36 kejadian dari  total 201 kejadian, termasuk  percobaan kejahatan, secara  global. Angka tersebut turun  dibandingkan dengan tahun 2017  sebanyak 43 kejadian, termasuk  percobaan kejahatan dari total 180  kejadian/percobaan.

Bambang menjelaskan untuk  menjaga keamanan maritim  Indonesia, dibutuhkan sinerji dan  komitmen dari semua pihak, baik  dari unsur pemerintahan maupun  pengguna jasa, dalam hal ini para  pemilik kapal (shipowners). Selain  itu, perlu memberikan perhatian  terhadap perkembangan aturan  internasional.

Khusus terhadap pemilik kapal,  perlu dibangun sirkulasi informasi  (info sharing) yang baik antara  operator kapal, Kantor INSA,  Koarmada I, Basarnas, Bakamla  sehingga pada saat kapal anggota  terjadi emmergency, bantuan akan  segera datang sesuai dengan  kebutuhannya. (*)

  • By admin
  • 19 Sep 2019
  • 134
  • INSA